Palu – Kompas Peduli Hutan (KOMIU) bersama 10 organisasi se-indonesia membangun platform pemantauan bersama lembaga internasional yang berasal dari brazil dengan menggabungkan penerapan ilmu pemetaan tata guna lahan, remot sensing, Geographic Information System (GIS) dan computing ekspert  dengan menggunakan Google Earth Engine Platform. Kata Aldi Rizki Koordinator Advokasi & Kampanye KOMIU.

Saat ini KOMIU bersama jaringan se – Indonesia tersebut, sudah melakukan training tahap ke III  yang bertempat dijakarta. Platform ini mampu secara otomatis membuat time series tutupan lahann dan tata guna lahan dari tahun 1980-an hingga tahun 2019 bahkan secara sistem mampu mengupdate keadaan tutupan hutan dan lahan untuk setiap tahunnya.  ungkapnya.

Rencananya platform ini akan di launching pada awal  tahun 2020 kerjasama kolaborasi ini akan mengcover seluruh pulau-pulau yang ada di Indonesia, yang antara lain: Sumatra, Kalimantan, Jawa-Bali, barisan kepulauan Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, Papua dan termasuk pulau-pulau kecil yang tersebar diseluruh Indonesia. Untuk versi 1.0 peta tutupan lahan versi Indonesia hanya akan merilis 11 jenis klasifikasi, didalamnya sudah termasuk tutupan eksistensi kebun sawit dan lahan terganggu dari sektor pertambangan.

Hasil dari platform ini  berupa peta tutupan dan tata guna lahan dengan resolusi 30m dalam bentuk mosaic yang didalamnya memuat 28 lembar informasi termasuk spectral bands, fraksi dan index-index dari berbagai macam sensor remote sensing (NDVI, NDFI, ENVI,dll). Produk tersebut sangat memungkinkan untuk menampilkan statistik konversi lahan dari tahun ketahun, memantau spesifik area, temporal filter dll.

Saat ini KOMIU merupakan satu-satunya lembaga yang berasal dari Sulawesi Tengah yang berkolaborasi mengembangkan platform ini dengan mengkover pulau Sulawesi dan Maluku, Hal ini menjadi sebuah terobosan baru di Sulawesi Tengah dalam melakukan monitoring hutan untuk membantu kerja advokasi yang berbasis fakta dan bukti, bukanya hanya mengandalkan opini.  Sehingga hal tersebut akan berdampak besar dalam perbaikan tata kelola maupun kondisi lingkungan secara berkelanjutan dimasa depan. Ujar Aldi Rizki

Kehutanan

Komentar Anda...