UMKM Desa Lingkar Tambang Hadapi Banyak Hambatan, Warga Dorong Akses Pasar hingga Dukungan Infrastruktur

Morowali Utara – Masyarakat di wilayah lingkar tambang terus berupaya mempertahankan dan mengembangkan usaha ekonomi lokal di tengah berbagai keterbatasan infrastruktur dan dampak aktivitas industri. Hal tersebut terungkap dalam kegiatan pemetaan partisipatif UMKM yang melibatkan pelaku usaha masyarakat desa.

Dalam pemetaan tersebut melibatkan desa Ganda-Ganda, Towara, Korololama dan Korololaki yang letaknya berada disekitar tambang di Kabupaten Morowali Utara. Warga mengidentifikasi berbagai jenis usaha yang saat ini berkembang di masyarakat, mulai dari karamba ikan nila dan ikan kerapu tiger, depot air minum, usaha roti, ayam kampung, katering makanan, hingga produksi makanan ringan berbahan lokal seperti kelor, ikan, pisang, ubi ungu, dan sorgum.

Beberapa pelaku usaha bahkan telah memiliki target produksi yang cukup jelas. Usaha karamba misalnya menargetkan produksi hingga 1.000 ekor ikan, sementara usaha roti mampu memproduksi sekitar 1.000 pieces per bulan. Depot air minum juga mencatat target distribusi hingga 500 galon per bulan.

Selain memberikan tambahan pendapatan keluarga, usaha-usaha tersebut turut membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar. Dalam satu usaha kecil, tenaga kerja yang terserap rata-rata berkisar antara dua hingga enam orang.

Namun demikian, masyarakat mengaku pengembangan UMKM belum berjalan maksimal akibat banyaknya hambatan yang dihadapi. Salah satu persoalan utama adalah keterbatasan perizinan usaha. Banyak pelaku UMKM belum memiliki legalitas usaha karena minimnya informasi dan pendampingan administrasi.

“Sebagian besar usaha masih belum punya izin usaha karena masyarakat belum memahami proses pengurusannya,” ungkap salah satu peserta diskusi.

Di sektor produksi, warga juga menghadapi kendala seperti kerusakan alat, keterbatasan pakan, hingga listrik yang tidak stabil. Kondisi tersebut menyebabkan proses produksi sering terhambat dan kapasitas usaha sulit berkembang.

Hambatan lain muncul pada ketersediaan bahan baku. Beberapa pelaku usaha masih bergantung pada pasokan dari luar daerah sehingga biaya produksi menjadi lebih tinggi. Selain itu, kondisi jalan yang rusak turut mengganggu distribusi bahan baku dan pemasaran produk masyarakat.

Persoalan pasar juga menjadi perhatian utama. Saat ini sebagian besar produk UMKM hanya dipasarkan secara lokal, dijual keliling, atau melalui promosi sederhana dari mulut ke mulut dan media online terbatas. Masyarakat berharap produk mereka dapat terhubung dengan kebutuhan kawasan industri di Morowali Utara.

Dalam diskusi tersebut, masyarakat juga menyusun sejumlah langkah adaptasi dan prioritas pengembangan ekonomi desa. Untuk kebutuhan mendesak tahun 2026, warga menilai bantuan genset listrik, penyediaan pakan, diversifikasi alat produksi, dan penyediaan gerai UMKM di kawasan industri menjadi prioritas utama.

Sementara untuk pengembangan jangka panjang tahun 2027, masyarakat berharap adanya penguatan tenaga kerja lokal dan keterhubungan pasar UMKM dengan aktivitas industri pertambangan dan kawasan smelter.

Masyarakat menilai penguatan UMKM lokal memerlukan dukungan nyata dari pemerintah daerah, pemerintah desa, perusahaan, dan lembaga pendukung lainnya. Dukungan tersebut diharapkan mencakup bantuan alat produksi, penguatan legalitas usaha, pelatihan keterampilan, stabilitas energi listrik, hingga pembukaan akses pasar yang lebih luas.

Dengan potensi usaha yang cukup beragam, masyarakat optimistis UMKM lokal dapat berkembang menjadi penggerak ekonomi desa apabila mendapatkan dukungan infrastruktur dan kebijakan yang memadai.

Komentar Anda...

Shopping Basket