Setiap tahun, ribuan burung menempuh perjalanan lintas benua demi satu tujuan: bertahan hidup. Di tengah perjalanan itu, Teluk Palu menjadi ruang sunyi namun krusial—tempat sayap-sayap lelah beristirahat sebelum melanjutkan migrasi.
Persinggahan Terakhir mengajak kita menyusuri jalur terbang Asia–Australia, menyingkap peran muara, pantai berlumpur, dan pesisir Teluk Palu sebagai sumber energi bagi burung-burung migrasi. Dari kuntul dan cerek hingga gajahan penggala dan trinil ekor kerbau, kehadiran mereka menandai rapuhnya keseimbangan ekosistem pesisir.
Namun kisah ini juga memuat ancaman nyata: pembangunan pesisir, reklamasi, dan aktivitas tambang yang menyempitkan ruang hidup. Ketika satu muara hilang, bukan hanya burung yang terdampak, tetapi jaringan ekologis lintas negara ikut terguncang.
Tulisan ini mengajak kita melihat Teluk Palu bukan sebagai ruang kosong pembangunan, melainkan simpul penting kehidupan global—tempat beristirahat, atau persinggahan terakhir.
Download disini
Persinggahan Terakhir Burung Migrasi di Teluk Palu
Bagikan :
- Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
- Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
- Bagikan ke Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
- Bagikan ke Threads(Membuka di jendela yang baru) Utas
- Bagikan ke Linkedln(Membuka di jendela yang baru) LinkedIn
- Kirim email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
- Cetak(Membuka di jendela yang baru) Cetak
