Morowali Utara – Aktivitas industri pertambangan nikel di wilayah Ganda-ganda dan Towara, Kabupaten Morowali Utara, dinilai belum sepenuhnya memberikan manfaat ekonomi yang merata bagi masyarakat lokal. Di tengah meningkatnya aktivitas industri dan kawasan smelter, warga masih menghadapi berbagai persoalan mulai dari minimnya akses kerja, kerusakan lingkungan, hingga buruknya infrastruktur pendukung ekonomi masyarakat.
Hasil penilaian partisipatif masyarakat menunjukkan bahwa peluang kerja di perusahaan tambang masih lebih banyak dinikmati tenaga kerja dari luar daerah. Masyarakat lokal mengaku kesulitan masuk ke perusahaan karena keterbatasan keterampilan, minimnya informasi lowongan kerja, hingga dugaan praktik rekrutmen yang lebih memprioritaskan “orang dalam”.
“Lowongan kerja jarang diketahui masyarakat. Banyak juga yang merasa sulit masuk karena syarat pendidikan dan keterampilan,” ungkap salah satu warga dalam proses penilaian.
Di sisi lain, sektor UMKM mulai tumbuh akibat meningkatnya aktivitas ekonomi di sekitar kawasan industri. Beberapa usaha seperti ayam potong, ikan asap, karamba, hingga warung makan mulai berkembang. Namun pertumbuhan ini masih terkendala keterbatasan fasilitas produksi seperti alat pendingin, pakan ikan, penerangan, hingga akses pasar.
Kondisi infrastruktur juga menjadi sorotan utama masyarakat. Jalan produksi yang setiap hari dilalui kendaraan berat perusahaan mengalami kerusakan parah. Saat musim hujan, jalan berubah menjadi lumpur dan meningkatkan risiko kecelakaan bagi pengendara roda dua.
Masyarakat menilai perusahaan dan pemerintah daerah perlu segera melakukan rehabilitasi jalan serta membangun fasilitas penyimpanan dan distribusi untuk mendukung aktivitas ekonomi warga.
Selain persoalan ekonomi, dampak lingkungan menjadi perhatian serius. Desa Ganda-ganda tercatat mengalami tingkat pencemaran air yang tinggi akibat aktivitas pertambangan. Debu tambang saat musim panas juga memicu keluhan sesak napas di masyarakat. Sementara di wilayah Towara, nelayan mengeluhkan hasil tangkapan yang menurun karena air laut semakin keruh dan area tangkap ikan semakin jauh dari pesisir.
Kerusakan hutan akibat pembukaan lahan juga disebut memicu banjir dan longsor di sejumlah wilayah. Kondisi ini dinilai mengancam keberlanjutan mata pencaharian masyarakat yang masih bergantung pada sektor pertanian dan perikanan tradisional.
Dalam laporan tersebut, masyarakat bersama pemangku kepentingan mendorong adanya langkah strategis untuk memperbaiki kondisi sosial-ekonomi dan lingkungan di wilayah lingkar tambang. Beberapa rekomendasi yang diusulkan antara lain rehabilitasi jalan produksi, penyediaan fasilitas cold storage, bantuan sarana UMKM, pelatihan keterampilan tenaga kerja lokal, hingga pengawasan lingkungan secara partisipatif.
Pemerintah daerah, pemerintah desa, perusahaan, serta PLN diharapkan dapat membangun sinergi dalam pengembangan infrastruktur ekonomi masyarakat. Dukungan tersebut dinilai penting agar pertumbuhan industri nikel dapat berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal dan perlindungan lingkungan hidup secara berkelanjutan.
Bagikan :
- Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
- Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
- Bagikan ke Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
- Bagikan ke Threads(Membuka di jendela yang baru) Utas
- Bagikan ke Linkedln(Membuka di jendela yang baru) LinkedIn
- Kirim email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
- Cetak(Membuka di jendela yang baru) Cetak
