Cerita Dari Laut Banggai Kepulauan

Pengelolaan sumber daya perikanan di Desa Bungin, Kabupaten Banggai Kepulauan, menghadapi tantangan berupa menurunnya hasil tangkapan, ukuran gurita yang semakin kecil, kerusakan terumbu karang, serta terbatasnya pengetahuan dan data masyarakat dalam mengelola sumber daya laut secara berkelanjutan. Melalui pendampingan Yayasan KOMIU, masyarakat bersama kelompok nelayan, pemerintah desa, pemerintah daerah, dan para pihak lainnya mulai membangun pengelolaan perikanan berbasis masyarakat melalui sistem buka-tutup kawasan tangkap gurita. Pada tahun 2022, kawasan seluas 48,2 hektar ditutup selama lima bulan dan dikelola melalui aturan bersama, pemasangan batas kawasan, serta pengawasan mandiri. Pendekatan ini kemudian dikembangkan melalui penguatan kelembagaan kelompok nelayan, peningkatan kapasitas pengelolaan perikanan, pencatatan hasil tangkapan, dan pemulihan ekosistem terumbu karang. Hasilnya menunjukkan peningkatan ukuran dan kualitas gurita serta produksi tangkapan. Produksi meningkat dari 1,8 ton pada periode Juni–Oktober 2022 menjadi 2,9 ton pada Januari–Juni 2024. Ketika kawasan seluas 109,92 hektar dibuka pada Juli 2024, nelayan mencatat hasil tangkapan sebesar 645,4 kg dalam satu minggu. Kawasan pengelolaan kemudian diperluas hingga mencapai 210 hektar. Perubahan tersebut turut meningkatkan nilai jual dan pendapatan nelayan serta memperkuat kesadaran masyarakat bahwa keberlanjutan sumber daya laut merupakan bagian penting dari keberlanjutan kehidupan mereka. Setelah pendampingan berakhir pada 2024, masyarakat Desa Bungin tetap menjalankan sistem buka-tutup secara mandiri. Pengalaman ini menunjukkan bahwa pengelolaan sumber daya laut yang memberikan ruang bagi masyarakat untuk belajar, mengambil keputusan, dan mengelola wilayahnya sendiri dapat mendorong pemulihan sumber daya sekaligus memperkuat penghidupan masyarakat pesisir.

Baca selengkapnya disini.Cerita Buka tutup Area tangkap gurita di Banggai Kepulauan

Komentar Anda...

Shopping Basket