BIODIVERSITY

Yayasan Kompas Peduli Hutan (KOMIU) bekerja di Sulawesi Tengah, sebuah wilayah dengan keragaman hayati unik dan kaya akan spesies endemik seperti anoa, babirusa, dan tarsius. Kami mengatasi ancaman serius terhadap spesies ikonik ini, seperti perusakan habitat, perburuan liar, dan perdagangan ilegal, dengan pendekatan inklusif dan berbasis komunitas. Kami meningkatkan kesadaran dan kapasitas masyarakat, mengembangkan program konservasi berkelanjutan, dan menciptakan ekonomi alternatif ramah lingkungan untuk menjaga keseimbangan ekosistem dan meningkatkan populasi spesies ikonik. Namun, jika dukungan terhadap pendekatan ini berkurang, konsekuensinya bisa sangat signifikan, sehingga upaya konservasi harus didukung dan dijalankan secara efektif.

TUJUAN

Tujuan utama program Yayasan Kompas Peduli Hutan (KOMIU) adalah untuk menjaga dan melindungi keanekaragaman hayati Sulawesi Tengah, khususnya spesies endemik, melalui pendidikan lingkungan, pemberdayaan masyarakat lokal, dan program konservasi berbasis komunitas, sehingga dapat meningkatkan kesadaran dan kapasitas masyarakat dalam menjaga ekosistem, mengurangi perburuan liar dan perusakan habitat, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal dan menjaga keseimbangan ekosistem.

Sulawesi Tengah, yang terletak di jantung Kawasan Wallacea, merupakan salah satu wilayah dengan keragaman hayati yang paling endemik di dunia. Kawasan ini, merupakan titik pertemuan antara flora dan fauna Asia dan Australia, sehingga menciptakan ekosistem yang unik dan kaya akan spesies endemik. Dengan hutan hujan tropis yang lebat, gunung-gunung yang menjulang, dan pantai-pantai yang indah, Sulawesi Tengah menjadi rumah bagi berbagai spesies langka, seperti anoa, babirusa, dan tarsius, yang tidak dapat ditemukan di tempat lain di dunia.

Spesies endemik ini menghadapi ancaman serius akibat perusakan habitat, perburuan liar, dan perdagangan ilegal, yang menyebabkan penurunan populasi mereka secara drastis, sehingga mengancam kelangsungan hidup mereka di alam liar dan meningkatkan risiko kepunahan, serta mengkhawatirkan para konservasionis dan masyarakat lokal yang bergantung pada keberadaan mereka untuk menjaga keseimbangan ekosistem.

Pendekatan administrasi  seperti kawasan konservasi dan di luar kawasan konservasi, berdampak pada ketimpangan data  yang mempengaruhi tindakan perlindungan terhadap spesies ikonik tersebut, dibeberapa wilayah di Sulawesi Tengah,habitat alami mereka seringkali terletak di luar kawasan yang dilindungi, sehingga upaya konservasi harus dilakukan secara lebih luas dan inklusif.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Yayasan Kompas Peduli Hutan (KOMIU) menggunakan beberapa pendekatan diantaranya; Meningkatkan kesadaran dan kapasitas masyarakat dalam menjaga dan melindungi hutan serta spesies endemik yang hidup di dalamnya. Mengembangkan program konservasi yang berbasis komunitas dan berkelanjutan, sehingga masyarakat dapat menjadi agen konservasi dan Mengembangan ekonomi alternatif yang ramah lingkungan untuk mengurangi tekanan terhadap habitat alami, sehingga dapat meningkatkan populasi spesies endemik dan menjaga keseimbangan ekosistem di Provinsi Sulawesi Tengah.

Hasil yang diharapkan adalah masyarakat lokal yang lebih sadar dan mampu menjaga serta melindungi hutan dan spesies endemik, program konservasi berbasis komunitas yang efektif, ekonomi alternatif ramah lingkungan, dan peningkatan populasi spesies ikonik serta keseimbangan ekosistem di Sulawesi Tengah. Namun, jika dukungan terhadap pendekatan ini berkurang, konsekuensinya bisa sangat signifikan, seperti penurunan populasi spesies ikonik, kerusakan ekosistem, hilangnya kesempatan ekonomi lokal, gagalnya upaya konservasi, peningkatan risiko kepunahan spesies, dan dampak negatif pada keseimbangan ekosistem serta perubahan iklim.

Shopping Basket