Refleksi Pembelajaran: Ekologi, Tata Kelola, dan Ketahanan Ekonomi Pembudidaya Rumput Laut di Banggai Kepulauan

Palu- Yayasan Kompas Peduli Hutan (KOMIU) menyelenggarakan workshop promosi inisiatif pengelolaan rumput laut secara berkelanjutan kepada para pihak dengan melakukan diseminasi hasil kajian rumput laut di Desa Komba-Komba, Kecamatan Bulagi, Banggai Kepulauan. Kegiatan ini dilaksanakan atas dukungan Burung Indonesia  bekerjasama dengan margaret a chargil philantropies. (27/02/2026).

Divisi Konservasi Yayasan KOMIU, Yulia Astuti, menyampaikan pembelajaran utama dari kajian ini menegaskan bahwa keberhasilan budidaya rumput laut sangat bergantung pada kualitas ekosistem perairan. Faktor lingkungan seperti salinitas, suhu, arus, dan curah hujan berpengaruh langsung terhadap produktivitas, sementara tekanan ekosistem meningkatkan risiko penyakit dan penurunan hasil. Karena itu, peningkatan produksi harus berjalan seiring dengan perlindungan dan pemulihan ekosistem pesisir.

Kajian juga menunjukkan bahwa tidak semua area budidaya memiliki tingkat kesesuaian yang sama. Hanya sebagian lokasi yang optimal, sedangkan lainnya terkendala faktor lingkungan dan aktivitas manusia. Hal ini menegaskan pentingnya pengembangan berbasis zonasi agar sumber daya difokuskan pada wilayah paling potensial.

Selain aspek biofisik, keberlanjutan usaha dipengaruhi tata kelola dan dukungan sistem, seperti akses bibit, modal, dan pengawasan terhadap praktik merusak. Intervensi kebijakan dan dukungan teknis menjadi kunci untuk meningkatkan stabilitas usaha pembudidaya.

Dari sisi sosial ekonomi, rumah tangga pembudidaya mengandalkan diversifikasi mata pencaharian sebagai strategi adaptasi saat produksi menurun. Ini menunjukkan bahwa kesejahteraan masyarakat pesisir bergantung pada ketahanan ekonomi yang lebih luas, tidak hanya pada hasil budidaya.

Secara keseluruhan, kajian ini menegaskan pentingnya pendekatan terpadu yang menggabungkan aspek ekologi, ekonomi, dan sosial dalam perencanaan budidaya, sehingga pengembangan tidak hanya meningkatkan produksi tetapi juga menjaga keberlanjutan ekosistem dan kesejahteraan masyarakat.

Menanggapi hal tersebut, “Budyanto Nura Somba, S.Kel., M.P., Staf Budidaya Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Tengah, menyatakan bahwa kajian ini menjadi dasar ilmiah untuk memprioritaskan isu lingkungan, menata ruang laut, memahami persoalan pembudidaya, sekaligus memperkuat arah kebijakan pengembangan rumput laut di tingkat provinsi.”

Sementara itu, Meity Ferdiana Paskual, akademisi Fakultas Ekonomi Universitas Tadulako, menekankan bahwa kajian ini perlu menghadirkan estimasi nilai ekonomi pada setiap mata rantai pasok rumput laut agar pemerintah provinsi memiliki gambaran konkret mengenai potensi kontribusinya terhadap pendapatan daerah. Ujarnya.

Download hasil kajian di bawah ini.

“Di Antara Arus dan Harapan”

Komentar Anda...

Shopping Basket