DAERAH PERLINDUNGAN LAUT

Yayasan Kompas Peduli Hutan (KOMIU) bekerja di Sulawesi Tengah, fokus pada konservasi berbasis masyarakat di sektor perikanan dan kelautan. Mereka menghadapi tantangan seperti destruktif fishing, kurangnya pengawasan, dan tata kelola perikanan yang belum optimal, yang menyebabkan kerusakan ekosistem laut dan berdampak negatif pada masyarakat pesisir. KOMIU menggunakan pendekatan kolaboratif dan partisipatif untuk meningkatkan kesadaran dan kapasitas masyarakat lokal, serta mengembangkan rencana pengelolaan kawasan konservasi perairan yang inklusif. Hasil yang diharapkan adalah peningkatan populasi ikan, perbaikan ekosistem laut, dan kesejahteraan masyarakat pesisir. Jika program ini tidak mendapat dukungan, konsekuensinya dapat memperparah kerusakan ekosistem laut dan penurunan pendapatan nelayan.

TUJUAN

Meningkatkan kesadaran dan kapasitas masyarakat lokal dalam mengelola sumber daya laut di Sulawesi Tengah untuk mencapai peningkatan populasi ikan, perbaikan ekosistem laut, dan kesejahteraan masyarakat pesisir yang dicapai pada akhir tahun 2030.

Yayasan Kompas Peduli Hutan (KOMIU) berperan aktif dalam konservasi berbasis masyarakat di sektor perikanan dan kelautan Sulawesi Tengah, fokus pada pengelolaan kawasan konservasi perairan dan pemberdayaan masyarakat pesisir. Saat ini kami telah melakukan kolaborasi dengan pemerintah dan masyarakat lokal dalam mengembangkan program konservasi berkelanjutan, seperti pengelolaan terumbu karang, padang lamun, dan mangrove, serta tingkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya konservasi laut. Kami juga membantu masyarakat lokal mengembangkan usaha perikanan berkelanjutan dan tingkatkan kapasitas mereka dalam pengelolaan sumber daya laut.

Implementasi program konservasi berbasis masyarakat di Sulawesi Tengah menghadapi beberapa tantangan, seperti praktik destruktif fishing yang masih marak, kurangnya pengawasan efektif oleh kelompok perikanan, dan tata kelola perikanan skala kecil yang belum optimal. Hal ini menyebabkan penurunan populasi ikan, kerusakan ekosistem laut, dan berdampak negatif pada kesejahteraan masyarakat pesisir. Selain itu, kurangnya kesadaran dan partisipasi masyarakat lokal, terbatasnya sumber daya dan kapasitas teknis, serta konflik kepentingan antara masyarakat dan pihak lain juga menjadi hambatan. Perubahan iklim dan aktivitas manusia yang tidak ramah lingkungan memperburuk kondisi ekosistem laut.

Untuk menyelesaikan masalah tersebut, Kami menggunakan pendekatan kolaboratif dan partisipatif dengan melibatkan masyarakat lokal, pemerintah, dan stakeholder lainnya dalam pengelolaan kawasan konservasi perairan. Pendekatan ini meliputi pendidikan lingkungan, pelatihan teknis, dan pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan kesadaran dan kapasitas mereka dalam mengelola sumber daya laut secara berkelanjutan. Selain itu, kami juga memfasilitasi dialog dan koordinasi antara masyarakat, pemerintah, dan pihak lain untuk mengatasi konflik kepentingan dan mengembangkan solusi yang inklusif dan efektif.

Hasil yang diharapkan melalui pendekatan tersebut yaitu meningkatnya kesadaran dan kapasitas masyarakat lokal dalam mengelola sumber daya laut, pengembangan rencana pengelolaan kawasan konservasi perairan yang inklusif, dan peningkatan partisipasi masyarakat dalam pengawasan dan pengelolaan sumber daya laut. Selain itu, pendekatan ini juga diharapkan dapat meningkatkan populasi ikan yang terancam, memperbaiki ekosistem laut melalui restorasi terumbu karang, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir melalui pengembangan usaha perikanan berkelanjutan yang ramah lingkungan.

Jika program ini kurang mendapat dukungan, konsekuensinya bisa sangat buruk, seperti perusakan ekosistem laut yang lebih parah, penurunan populasi ikan yang signifikan, kesejahteraan masyarakat pesisir yang terancam, konflik kepentingan yang meningkat, dan kegagalan dalam mencapai tujuan konservasi dan pembangunan berkelanjutan, sehingga mengancam masa depan sumber daya laut dan masyarakat yang bergantung padanya.

Shopping Basket